Refleksi Sumpah Pemuda: Sudah Saatnya KDS Memimpin Ciamis?

Oleh: Jiuz, Kabid Komdigi PKS Ciamis

Setiap tanggal 28 Oktober, kita kembali mengenang ikrar para pemuda pada tahun 1928. Sebuah momentum bersejarah yang mengajarkan bahwa perubahan besar memerlukan keberanian, persatuan, dan kesediaan untuk mengambil tanggung jawab di masa depan.

Sumpah Pemuda bukan sekedar catatan sejarah. Ia mengingatkan bahwa setiap generasi memiliki kesempatan untuk menentukan arah perjalanan bangsanya. Semangat itu juga relevan ketika kita berbicara tentang masa depan Kabupaten Ciamis dan tokoh-tokoh yang selama ini menapaki jalan pengabdian di daerah ini.

Dalam refleksi itulah, saya memandang perjalanan H. Didi Sukardi, SE, atau yang akrab disapa KDS, sebagai sebuah perjalanan politik yang menarik untuk dicermati.

Dua periode sebagai anggota DPRD Kabupaten Ciamis, tiga periode di DPRD Provinsi Jawa Barat, pengalaman memimpin sayap Kepemudaan Gema Keadilan Jawa Barat, Angkatan Muda Siliwangi (AMS) Distrik Ciamis, hingga kini dipercaya memimpin DPD PKS Kabupaten Ciamis, merupakan bagian dari perjalanan panjang di dunia politik dan organisasi.

Bagi saya, perjalanan tersebut bukan sekadar rangkaian jabatan. Ada pengalaman, proses, dan tanggung jawab yang menyertainya. Tentu saja, setiap jabatan memiliki ruang pengabdian dan tantangannya sendiri.

Saya mengenal perjalanan KDS bukan hanya melalui pemberitaan atau catatan organisasi. Sejak tahun 2008, saya telah berada dalam lingkungan perjuangan yang sama, dibinanya dalam lingkaran UPA, termasuk mendampingi kampanye pada tahun 2014. Pengalaman itu memberikan perspektif pribadi dalam melihat bagaimana perjalanan seorang kader berkembang seiring waktu.

Dari pengalaman tersebut, saya melihat pentingnya semangat juang, konsistensi terhadap perjuangan organisasi, dan keteguhan dalam menjalankan amanah. Penilaian itu merupakan refleksi pribadi yang tentu tetap perlu diuji melalui tindakan dan pengabdian nyata.

Dari Pengalaman Menuju Tanggung Jawab yang Lebih Besar

Setiap perjalanan panjang seharusnya membawa seseorang pada pemahaman yang lebih mendalam tentang masyarakat yang dilayaninya.

Pengalaman di lembaga legislatif memberikan kesempatan untuk memahami proses kebijakan, penganggaran, pengawasan, dan penyaluran aspirasi. Pengalaman organisasi membentuk kemampuan membangun komunikasi, mengelola perbedaan, serta menggerakkan orang-orang dengan latar belakang yang beragam.

Namun, pengalaman masa lalu bukanlah tujuan akhir. Ia merupakan bekal untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.

Ciamis terus menghadapi berbagai pekerjaan rumah, mulai dari penguatan ekonomi masyarakat, penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda, peningkatan kualitas pelayanan publik, pembangunan desa, hingga pengembangan potensi daerah.

Persoalan-persoalan tersebut membutuhkan kepemimpinan yang mampu mendengarkan, menyatukan gagasan, membangun kerja sama, dan menerjemahkan visi menjadi program yang terukur.

Karena itu, ketika membicarakan masa depan Ciamis, pertanyaan yang layak diajukan bukan semata-mata siapa yang memiliki pengalaman paling panjang, melainkan bagaimana pengalaman tersebut dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Sudah Saatnya KDS Memimpin Ciamis?

Pertanyaan ini mungkin terdengar tegas. Namun, bagi saya, ia merupakan bagian dari refleksi tentang kesinambungan perjalanan politik dan kemungkinan pengabdian pada tingkat yang berbeda.

Setelah menempuh perjalanan panjang di legislatif dan organisasi, wajar apabila muncul gagasan mengenai kemungkinan KDS mengambil tanggung jawab kepemimpinan eksekutif di Kabupaten Ciamis.

Apakah sudah saatnya KDS memimpin Ciamis sebagai bupati?

Sebagai penulis ‘jalanan’, saya memandang pertanyaan itu layak menjadi bahan diskusi publik. Bukan karena perjalanan karier seseorang otomatis menjadikannya pilihan yang harus diterima, melainkan karena pengalaman panjang seorang figur patut menjadi salah satu bahan pertimbangan ketika masyarakat membicarakan masa depan daerahnya.

Pengalaman tentu penting, tetapi harus berjalan bersama visi yang jelas, integritas, kemampuan membangun kolaborasi, serta kesanggupan menjawab persoalan konkret masyarakat.

Ciamis tidak hanya membutuhkan pemimpin yang memahami dinamika politik. Ciamis juga membutuhkan kepemimpinan yang memahami denyut kehidupan petani, pedagang kecil, pelaku UMKM, tenaga pendidik, pemuda, dan masyarakat desa.

Jika suatu saat KDS memilih atau memperoleh mandat untuk memasuki kontestasi kepemimpinan Kabupaten Ciamis, gagasan dan programnya perlu diuji secara terbuka. Masyarakat berhak mengetahui apa yang hendak diperjuangkan, bagaimana program akan dijalankan, dan bagaimana hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, jabatan bupati bukanlah penghargaan atas panjangnya perjalanan karier. Jabatan tersebut merupakan amanah publik dengan tanggung jawab yang jauh lebih luas.

Sumpah Pemuda dan Keberanian Membuka Babak Baru

Para pemuda 1928 tidak hanya mewariskan kata-kata tentang persatuan. Mereka menunjukkan keberanian untuk membuka babak baru dalam perjalanan bangsa.

Semangat serupa dibutuhkan dalam membangun Ciamis: keberanian mengevaluasi keadaan, memperbarui cara kerja, memberikan ruang kepada generasi muda, dan mempertemukan berbagai kekuatan untuk kepentingan bersama.

Kepemimpinan daerah semestinya tidak terjebak dalam sekat-sekat politik. Kompetisi boleh berlangsung, perbedaan gagasan boleh diperdebatkan, tetapi kepentingan masyarakat harus tetap menjadi titik temu.

Di sinilah tantangan bagi setiap figur yang ingin mengambil peran lebih besar dalam pemerintahan daerah. Rekam jejak perlu disertai gagasan masa depan. Pengalaman perlu disertai kemampuan beradaptasi. Dukungan organisasi perlu diiringi kesediaan untuk melayani seluruh masyarakat, termasuk mereka yang memiliki pilihan politik berbeda.

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa persatuan tidak lahir karena semua orang memiliki pandangan yang sama, melainkan karena mereka bersedia bergerak bersama menuju tujuan yang lebih besar.

Penutup: Masa Depan Ciamis Harus Dibicarakan dengan Serius

Bagi saya, perjalanan KDS memberikan bahan refleksi tentang bagaimana pengalaman politik, perjuangan organisasi, dan amanah kepemimpinan dapat dipertemukan dalam pembicaraan mengenai masa depan Ciamis.

Gagasan tentang KDS sebagai calon pemimpin daerah patut dibicarakan melalui diskusi yang sehat, dengan mempertimbangkan rekam jejak, visi, program, integritas, dan kebutuhan masyarakat.

Tidak cukup hanya bertanya siapa yang akan memimpin. Kita juga harus berani bertanya: Ciamis seperti apa yang ingin kita bangun, persoalan apa yang harus diselesaikan, dan bagaimana memastikan bahwa kepemimpinan berikutnya benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat?

Refleksi Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk memikirkan masa depan. Tanggung jawab itu bukan hanya milik tokoh politik, tetapi juga milik masyarakat, kaum muda, organisasi, dan seluruh elemen daerah.

Sudah saatnya kita membahas masa depan kepemimpinan Ciamis dengan lebih serius. Bukan sekedar mata tentang siapa yang akan menjadi bupati, melainkan tentang siapa yang memiliki gagasan, kesiapan, dan komitmen untuk mengemban amanah bagi seluruh masyarakat Tatar Galuh.

Dan dalam ruang diskusi itu, perjalanan panjang KDS menjadi salah satu rekam jejak yang patut dicermati, diperiksa secara kritis, dan dinilai bersama oleh masyarakat.

Jiuz
Kabid Komunikasi Digital (Komdigi) PKS Ciamis